Sunday, August 23, 2026
Home Warta Sang SabdaHati Yang Dibaharui – Warta Sang Sabda

Hati Yang Dibaharui – Warta Sang Sabda

by Fransiskus de Sales
0 comments

HATI YANG DIBAHARUI – Warta Sang Sabda

Bacaan Yer 26:1-9; Mzm 69:5,8-10,14; Injil Mat 13:54-58.

 *Pw* *S* . *Ignasius* *dr* *Loyola* , *Imam* 

====================

Ignacio Lopez dengan Loyola atau kita kenal sebagai St. Ignasius de Loyola adalah pendiri dari a Serikat Yesus. Ia dilahirkan di Kastil keluarga bangsawan Loyola di wilayah Basque, Spanyol. Ketika masuk kanak-kanak, ia dikirim untuk menjadi abdi di istana raja. Di sana ia tinggal sambil berangan-angan bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi seorang kesatria yang hebat. Ignasius kemudian masuk militer dan menjadi seorang perwira. Pada penyerbuan benteng Pampiona, Ignasius bertempur dengan berani namun ia terkena peluru meriam dan terluka parah. Luka ditubuhnya membuat Ignasius terbaring selama berbulan-bulan di atas pembaringannya di Benteng Loyola. Selama masa penyembuhannya, ia banyak membaca buku. Ia menyukai cerita-cerita kepahlawanan, tetapi di sana hanya tersedia kisah hidup Yesus dan para kudus. Karena tidak ada pilihan lain, ia membaca buku-buku itu. Perlahan-lahan, buku-buku itu mulai menarik hatinya. Hidupnya mulai berubah. Ia berkata pada dirinya sendiri, “Mereka adalah orang-orang yang sama seperti aku, jadi mengapa aku tidak bisa melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan?” Semua kemuliaan dan kehormatan yang sebelumnya sangat kita dambakan, tampak tak berarti lagi baginya. Ia mulai meneladani para kudus dalam doa, silih dan perbuatan-perbuatan baik. Setelah sembuh, Ignasius mengunjungi sebuah biara dimana ia menanggalkan jubah militernya dan mempersembahkannya pada lukisan Sang Perawan Maria. St. Ignasius wafat di Roma pada tanggal 31 Juli 1556. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1622 oleh Paus Gregorius XV. ***

====================

Janganlah di antaramu ada allah lain, dan janganlah menyembah allah asing. Akulah Tuhan Allahmu.

====================

Sering kali manusia sulit menerima kebenaran yang menegur hidupnya. Kita lebih nyaman mendengar kata-kata yang menyenangkan daripada ajakan untuk bertobat. Dalam keluarga, tempat kerja, maupun pergaulan, manusia mudah menolak kritik dan mempertahankan ego. Bahkan tidak jarang seseorang meremehkan orang yang sebenarnya membawa kebaikan, hanya karena merasa sudah terlalu mengenalnya. Akibatnya, hati menjadi tertutup dan hidup rohani berhenti bertumbuh. Dunia modern membuat manusia cepat menilai dari penampilan, kedudukan, atau latar belakang, tetapi lambat melihat karya Allah yang tersembunyi di balik kesederhanaan. 

====================

Dalam kitab Yeremia, Nabi Yeremia diutus untuk menyerukan pertobatan kepada bangsa Israel. Ia berbicara atas nama Tuhan agar umat meninggalkan jalan hidup yang jahat. Namun bukannya diterima, Yeremia justru ditolak dan diancam. Hati manusia yang keras membuat mereka memilih marah daripada berubah. Sikap serupa tampak dalam Injil Matius. Orang-orang Nazaret heran akan hikmat Yesus, tetapi mereka gagal percaya karena terlalu mengenal latar belakang-Nya. “Bukankah Ia ini anak tukang kayu?” Mereka terhalang oleh pandangan lahiriah sehingga tidak mampu melihat kehadiran Allah dalam diri Yesus. Injil mengatakan bahwa Yesus tidak banyak mengatakan mukjizat di sana karena ketidakpercayaan mereka. Sabda ini sangat berkaitan dengan kehidupan Santo Ignasius dari Loyola. Pertobatan Ignasius dimulai ketika kesombongan dan ambisi duniawinya dihancurkan oleh pengalaman luka dan penderitaan. Dari sanalah matanya dibuka untuk melihat kehendak Allah. 

====================

Santo Ignasius mengajarkan bahwa Allah bekerja dalam gerak batin manusia. Namun hati yang dipenuhi kesombongan sulit mendengar suara Tuhan. Karena itu pertobatan sejati dimulai dari kerendahan hati untuk membiarkan diri dibentuk oleh rahmat. Yeremia dan Yesus sama-sama mengalami penolakan, tetapi mereka tetap setia pada kehendak Bapa. Inilah misteri salib: kasih Allah tetap bekerja bahkan ketika manusia menolak-Nya. Dalam iman Katolik, rahmat tidak memaksa hati manusia, tetapi menuggu keterbukaan dan kebebasan manusia untuk menjawab panggilan Tuhan. 

====================

Sebagai orang Katolik, kita dipanggil memiliki hati yang mau belajar dan dibaharui. Dalam pekerjaan, jangan merasa diri paling benar atau paling hebat. Belajarlah menerima masukan dengan rendah hati. Dalam keluarga, jangan meremehkan orang terdekat hanya karena merasa sudah mengenalnya terlalu lama. Kita juga diajak untuk membiasakan diri dalam melakukan pemeriksaan batin seperti diajarkan Santo Ignasius: melihat kembali sikap, kata-kata, dan keputusan setiap hari di hadapan Tuhan. Hindari kebiasaan cepat menghakimi orang dari penampilan atau status sosialnya. Belajarlah melihat bahwa Allah dapat bekerja melalui siapa saja, bahkan lewat pribadi sederhana yang sering diabaikan dunia. Ketika hati menjadi terbuka dan rendah hati, hidup manusia perlahan diubah oleh rahmat menjadi serupa dengan Kristus. (VU)

====================

DARI MANA DIPEROLEH-NYA HIKMAT DAN KUASA ITU? BUKANKAH DIA ITU ANAK TUKANG KAYU? 😇***

<Komsos paroki SFS Pada-keuskupan Larantuka>

You may also like

Leave a Comment

https://katekiskeuskupanamboina.or.id/ https://keuskupanamboina.or.id/ https://kkl.or.id/ https://komsoskeuskupanamboina.or.id/ https://parokilewotobi.or.id/ https://parokisantoyosephbulihaltim.id/ https://rshatikuduslanggur.org/ https://rsottokuyk.org/ https://santoignasiuslanud.or.id/ https://sdxaveriuscambon.sch.id/ https://seminarixaverianum.or.id/ https://sfspada.or.id/ https://slc.sch.id/ https://smakjohannesaertskatlarat.sch.id/ https://sman3sbb.sch.id/ https://smaverambon.sch.id/ https://smpkatolikambon.sch.id/ https://wkriamboina.or.id/ https://yasbin.org/ https://yubileumtmm.or.id/
lapkv
mataqq
bcaqq
situs parlay
bbm88
situs indobet365 indobet365